Rabu, 05 September 2012

Puisi Perjuangan : Bunda, Susu dan keringat kasihmu

Bunda,
Ku lihat kini tubuhmu letih dan lesu
Mungkin telah mengalir habis tenagamu
Bersama susu dan kasih yang kau berikan padaku

Bunda,
Susu dan keringat kasihmu
Masih mengalir dalam darah dan dagingku
Menyelinap dalam urat yang paling halus
Mengenangnya ku tulis puisi yang tulus

Bunda,
Restumu kan ku jadikan selendang
Doamu kan ku jadikan pedang
Bekalku ke medan juang
Agar agamamu dan agamaku
Tinggi menjulang

Bunda,
Harapanku ia akan jadi cagaran
Membeli mahligai gadang
Di hari yang hadirnya tiada keraguan
Mengantikan kamar sempit kita sekarang

Bunda,
Cuma sekarang, bulu romaku meremang
Di sini mula diperdengarkan
Suara-suara cabul dari seberang
Mendendangkan lagu tolol dan sumbang

Vokalnya bersalut manisan hipokrit
Ritmanya pula bercampur muntah melekit

Ujar mereka melalui lirik
Yang ditulis antara baris
Kasih pada mu hanya patut dipalit
Pada hari ’istimewa’ yang secalit

Seusai hari ’istimewa’ itu
Dengan jambangan bunga
Mereka akan mengiringimu
Bersama cucuran air mata buaya
Ke Rumah Orang-Orang Tua

Dengan ucapan perpisahan
Kalau ada sumur di ladang
Dapat kita menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang
Tahun hadapan berjumpa lagi

Oh Bunda,
Bergitulah sadisnya
Bila materi dijadikan puncak kebahagian
Bergitulah tragisnya
Bila agama tidak dijadikan tonggak kehidupan

Description: Puisi Perjuangan : Bunda, Susu dan keringat kasihmu, Rating: 4.5, Reviewer: Majalah Bisnis, ItemReviewed: Puisi Perjuangan : Bunda, Susu dan keringat kasihmu